Showing posts sorted by relevance for query surah-al-baqarah. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query surah-al-baqarah. Sort by date Show all posts

Nih Tajwid Dan Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 164 Dan Juga Arab Terjemahnya

Berikut ialah surah al-Baqarah ayat 164 dan juga terjemahannya:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(164)

Artinya: Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di maritim dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, kemudian dengan itu dihidupkan-Nya bumi sesudah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya majemuk binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan gejala (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti. (Q.S. al-Baqarah [2]: 164)

Tajwid Surah al-Baqarah Ayat 164
    Beberapa bacaan ilmu tajwid yang terdapat dalam Surah al-Baqarah ayat 164 sebagai berikut.
1. Hukum Bacaan Nun Mati atau Tanwin
    Dalam Surah al-Baqarah ayat 164 terdapat beberapa aturan bacaan nun mati atau tanwin. Hukum bacaan pertama ialah bacaan idgam bilagunnah. Hukum bacaan ini kita gunakan dikala membaca kata ibarat لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ. Bacaan idgam bilagunnah dibaca dengan metode memasukkan suara nun sukun atau tanwin aksara berikutnya tanpa berdengung. Bacaan selanjutnya ialah idgam bigunnah dengan cara memasukkan suara aksara nun sukun atau tanwin ke dalam aksara yang mengikutinya dengan mendengung. Contoh bacaan ini dalam Surah al-Baqarah ayat 164 ialah kata َابَّةٍ وَتَصْرِيفِ .
2. Hukum Bacaan Mad
    Hukum bacaan mad yang terdapat dalam ayat ini ialah mad tabi’i dan mad layyin. Bacaan mad tabi’i sanggup dengan gampang kita temukan dalam ayat ini alasannya ialah tersebar di banyak tempat. Dua di antaranya ialah وَاخْتِلَافِ dan لَآيَاتٍ. Adapun aturan bacaan mad layyin merujuk pada keadaan dikala harakat fathah diikuti oleh ya sukun atau wau sukun. Pada ayat ini kita sanggup menerapkan bacaan mad layyin dikala membaca kata اللَّيْلِ.
3. Bacaan Alif Lam Makrifat
    Dalam Surah al-Baqarah ayat 164 terdapat kedua macam bacaan alif lam makrifat, yaitu alif lam qamariyah dan alif lam syamsiyah. Contoh bacaan ini ialah وَالْفُلْكِ untuk alif lam qamariyah dan  وَالسَّحَابِ untuk alif lam syamsiyah. (As‘ad Humam. 1995. Halaman 10, 40, dan 60)

Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 164
    Surah ini memuat sebuah pernyataan wacana tanda kebesaran Allah Swt. Paling tidak terdapat empat tanda penting yang disebutkan Allah Swt. dalam ayat ini, yaitu penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, turunnya air yang menghidupkan bumi, dan perkisaran angin di antara langit dan bumi. Semua tanda ini merupakan pelajaran dan tantangan bagi orang yang mengerti. Orang yang mengerti dalam hal ini tentu bukan sekadar orang yang mempunyai kecakapan ilmu pengetahuan. Orang itu juga sanggup menemukan kebenaran Allah Swt. dan meningkatkan keimanannya dengan pengetahuan yang diperoleh.

Untuk mengetahui tanda kekuasaan Allah Swt. dalam ayat ini marilah kita telusuri bersama. Dalam bab ini, Surah al-Baqarah ayat 164 senada dengan Surah Yunus ayat 101. Namun, keduanya berbeda sudut pandang dalam melihat langit dan bumi. Surah Yunus ayat 101 lebih menyoroti benda yang ada di langit dan di bumi, sedangkan Surah al-Baqarah ayat 164 lebih melihat pada proses penciptaan langit dan bumi ini.
 Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi Nih Tajwid dan Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 164 dan Juga Arab Terjemahnya
Bagaimanakah langit dan bumi diciptakan? Penciptaan langit dan bumi dalam hal ini identik dengan penciptaan alam semesta. Dalam Surah al-Anbiya’ ayat 30, Allah bertanya, ”Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui sesungguhnya langit dan bumi itu keduanya dahulu ialah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” Pernyataan ini disampaikan Allah Swt. empat belas era yang lalu. Pada dikala itu tidak ada satu pun pengetahuan insan yang sanggup memahami makna yang terkandung dalam ayat ini. Bahkan oleh seorang Muhammad saw. sekalipun.

Ilmu pengetahuan terkini menyebutkan adanya suatu teori yang diterima oleh hampir semua ilmuwan dunia, yaitu teori Big Bang atau Dentuman Besar. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta ini pada awalnya ialah suatu bahan yang sangat kecil dan dikenal sebagai sop kosmos. Oleh alasannya ialah kecilnya, lebih kecil dari ukuran atom maka sanggup dianggap sebagai tidak ada. Dari bahan kecil yang diciptakan Allah itulah, alam semesta ini terbentuk. Allah Swt. memisahkan bahan itu hingga terbentuk ruang dan waktu. Peristiwa ini berdasarkan ukuran ilmu astronomi terjadi sekitar dua belas miliar tahun yang lalu. Materi itu terpisah dan membentuk bintang-bintang, galaksi, tata surya, dan planet-planet. Planet bumi kita diperkirakan mulai terbentuk dari bab bintang matahari yang terlepas dari induknya. Pada mulanya, bumi berupa bola panas yang berputar. Semakin usang bola itu semakin mendingin hingga terbentuk daratan dan lautan. Setelah berproses semenjak lima miliar tahun yang lalu, planet bumi ini mulai sanggup dihuni oleh makhluk hidup.

Proses penciptaan langit dan bumi merupakan sesuatu yang sangat rumit dan agung. Satu pertanyaan yang senantiasa menggelitik para ilmuwan ialah apakah penciptaan alam semesta ini terjadi dengan
sendirinya? Apakah keteraturan yang sedemikian jago terbentuk tanpa ada perancangnya? Adakah kekuatan yang mahadahsyat dan mahapandai yang menjadikan semua ini sanggup terjadi? Inilah perenungan yang Allah Swt. ajak kita mencari jawabnya. Perhatikanlah apa yang ada di bumi. Seperempat dari bumi berupa daratan dan tiga perempatnya dalah lautan. Di daratan yang hanya seperempat bumi tersebut tersimpan kekayaan alam yang melimpah dan gres sedikit yang diketahui oleh manusia. Bumi terdiri atas beberapa lapisan dan setiap lapis mempunyai karakter dan keunikan tersendiri.

Manusia diperintahkan untuk mempergunakan logika guna menemukan pengetahuan-pengetahun gres yang berkaitan dengan bumi. Semua itu sungguh mengagumkan. Di dalam lautan yang merupakan bab terbesar bumi terdapat diam-diam yang gres sedikit tersingkap. Manusia diperintahkan untuk memakai akalnya guna menyingkap diam-diam yang ada di balik lautan. Setiap tersingkap satu diam-diam baru, ternyata masih ada berlapis-lapis bab yang belum terungkap. Tanda kekuasaan Allah yang kedua ialah pergantian siang dan malam. Menurut ilmu astronomi, pergantian siang dan malam terjadi alasannya ialah peredaran bumi pada porosnya dan juga peredaran bumi mengelilingi matahari. Saat Allah Swt. menyatakan hal ini dalam salah satu ayat-Nya tentulah menawarkan bahwa hal ini mempunyai keistimewaan. Salah satu keistimewaan itu bahwa pergantian siang dan malam merupakan satu tanda kekuasaan Allah untuk menjaga kehidupan tetap berjalan di muka bumi ini. Bagaimanakah hal ini terjadi? Inilah yang kita diajak oleh Allah Swt. untuk memperhatikannya.
 Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi Nih Tajwid dan Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 164 dan Juga Arab Terjemahnya
Tanda ketiga ialah perjalanan maritim yang memungkinkan terjadi dengan kapal. Sebagaimana disebutkan bahwa tiga perempat dari bumi ialah air atau laut. Manusia yang pada jamaknya berada di daratan sanggup mengarungi lautan. Hal ini tentu berada di luar kebiasaan insan dan hanya sanggup terjadi kalau Allah mengizinkannya. Sejak zaman Nabi Nuh a.s. kapal telah dipergunakan sebagai sarana pengangkutan. Manusia sanggup mempergunakan kapal yang berlayar untuk membawa barang-barang yang bermanfaat bagi orang lain. Selain itu, dengan kapal yang berlayar insan sanggup mengenal sesamanya yang berada di pulau lain. Dengan ilmu pelayaran yang dikaruniakan Allah Swt., insan sanggup memahami sebagian kecil dari diam-diam alam. Semua ini terjadi dan sudah diatur oleh Allah Swt.
 Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi Nih Tajwid dan Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 164 dan Juga Arab Terjemahnya
Tanda keempat dan kelima yang sanggup kita temukan dalam Surah al-Baqarah ayat 164 ini ialah turunnya hujan yang menghidupkan bumi dan kisaran angin di antara langit dan bumi. Tanda ini sudah sering kita temukan bagi kita yang berdiam di wilayah khatulistiwa yang mempunyai curah hujan relatif tinggi. Dengan keadaan ini, asal kita mau memperhatikan, tanda kekuasaan Allah Swt. yang satu ini dengan gampang kita pahami. Iklim dua trend yang terjadi di negara kita menjadikan kita dengan gampang membedakan keadaan dikala kemarau dan hujan. Pada trend kemarau, tanah berubah tandus, tumbuhan kering dan mati alasannya ialah kekurangan air. Tanah itu mati. Tidak ada satu pun kehidupan di atasnya. Pada tanah yang mati ini, Allah Swt. mengirimkan hujan. Pertama, Allah angkat air melalui proses penguapan dengan panas matahari. Setelah terkumpul di awan, Allah Swt. menggiring awan-awan berisi air tersebut ke arah mana pun yang Dia kehendaki. Saat Allah Swt. mengirimkan awan itu ke tanah yang tandus dan menurunkan hujan di daerah tersebut, keajaiban akan terjadi. Pada tahap ini perkisaran angin di antara langit dan bumi memegang peranan yang sangat penting. Tanah yang semula tandus kering tanpa kehidupan berangsur basah. Sejenak sesudah masuknya air ke dalam tanah, tunas-tunas gres muncul. Rerumputan, perdu, hingga pohon berkayu keras pun bersemi kembali.

Tanah yang sebelumnya mati, perlahan tetapi niscaya hidup kembali dengan flora dan pepohonan. Tak berapa usang kemudian, sanggup dipastikan banyak sekali jenis binatang mulai yang terkecil mikroba akar, kumbang, ular, hingga binatang besar pun menghuni tanah yang kembali subur itu. Air hujan yang turun sanggup meresap ke bawah dan kelak akan menjadi telaga. Air yang mengalir menjadi sungai-sungai juga bermanfaat bagi manusia. Sungai sanggup dipergunakan sebagai sarana pengangkutan dan daerah mencari nafkah. Ikan sanggup hidup dan berkembang biak di sungai sehingga sanggup dimanfaatkan insan untuk memenuhi kebutuhan protein. Selain itu, air sungai juga sanggup dipergunakan untuk mengairi sawah dan ladang biar tumbuhan yang ditanam tumbuh subur dan menghasilkan hasil panen yang baik. Air sungai ada yang mengalir ke maritim dan akan menguap ke udara kemudian turun lagi menjadi hujan. Semua itu berjalan dengan teratur dan merupakan tanda kekuasaan Allah.
Dari manakah asal benih tetumbuhan itu? Dari mana pula asal hewan-hewan yang kemudian muncul di tanah yang kembali subur?
Inilah tanda kekuasaan Allah Swt. Keadaan ini menyediakan kajian ilmu pengetahuan yang teramat luas. Peredaran angin juga menjadi tanda kekuasaan Allah Swt. Peredaran angin dikala ini kita sebut dengan cuaca. Peredaran angin atau cuaca juga menjadi tanda kekuasaan Allah Swt. dan bab ilmu pengetahuan. Dengan mempergunakan logika insan sanggup mengetahui arah angin dan pengaruhnya bagi kehidupan. Manusia sanggup mengetahui dan memperkirakan bahwa udara akan panas, sejuk, atau dingin. Manusia juga sanggup memperkirakan turun hujan atau cuaca cerah.

Perhatikan terjemah ayatnya, ”Dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi”. Angin dan awan dipisahkan perhatiannya alasannya ialah angin dikatakan bersahabat kepada manusia, sedangkan awan beredar pada cakrawala yang tinggi. Allah Swt. memerintahkan angin dan awan untuk bergerak ke sana ke mari guna menurunkan hujan dan membagi cuaca. Hal ini tidak sanggup terjadi kalau Dia tidak menghendaki. Tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. yang tersebut dalam Surah al-Baqarah ayat 164 merupakan pelajaran bagi manusia. Akan tetapi, tidak semua insan sanggup mengambil pelajaran dari gejala itu. Hanya orang yang mengertilah yang sanggup memahami, belajar, dan mengambil manfaat dari pengetahuan yang diperolehnya. (PAI Husni Tohyar)

Nih Surah Al-Baqarah Ayat 148 (Arab, Terjemahan, Tajwid, Dan Kandungan Al-Baqarah Ayat 148)

Berikut yaitu arab dari surah al-Baqarah ayat 148:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Terjemah
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kau berada niscaya Allah akan mengumpulkan kau sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Al-Baqarah: 148)

Tajwid Surah Al-Baqarah ayat 148
Dengan memperhatikan ayat tersebut, ada aturan tajwid yang dapat dipelajari. Diantaranya:
 Di mana saja kau berada niscaya Allah akan mengumpulkan kau sekalian  Nih Surah al-Baqarah ayat 148 (Arab, Terjemahan, Tajwid, dan Kandungan al-Baqarah ayat 148)
1) Idgom bilagunnah: artinya meleburkan suara tanwin sesuai sehingga lafalnya mirif dengan abjad di depanya. Misalnya kata "walikulliw wijhatun".
2) Izhar: artinya abjad tanwin dibaca jelas, khusus saat menghadapi abjad (Alif (hamzah), Ha, Kha, a, ‘Ain, Gin). Misalnya “wijhatun huwa”.
3) Alif lam qomariah: artinya abjad lam di awal kata dibaca jelas. Huruf ini ditandai dengan simbol sukun (huruf mati), contohnya alif lam pada kalimat “fastabiqul khairot”.
4) Mad iwad, artinya tanwin di simpulan kalimat dibaca satu harkat. Misalnya kalimat “jami’an” dibaca “jami’a”.
5) Ikhfa, artinya abjad tanwin atau nun mati menghadapi abjad ikhfa dibaca mendengung (bunyi ‘ng’), contohnya kata “syaiin” dalam “ala kuli syaiin qodir”.

Kandungan Surah Al-Baqarah ayat 148
    Ayat ini memberi keterangan bahwa setiap kelompok masyarakat mempunyai contoh atau kiblat mengenai sumber rujukan perilaku. Dengan kata lain, setiap masyarakat mempunyai rujukan pemikiran sikap hidupnya masing-masing. Dalam sejarah kehidupan manusia, setiap kurun peradaban insan mempunyai sumber rujukan atau pemikiran hidup masing-masing. Pada zaman Nabi Musa As sumber rujukan nilainya yaitu Kitab Suci Taurat, zaman nabi Daud As bersumber pada Kitab Zabur, sedangkan pada masa Nabi Isa as yaitu Kitab Suci Injil. Hal ini memperlihatkan keterangan bahwa Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 148 mengandung uraian sejarah yang sempurna dan ada buktinya.

Kebenaran maksud dari kalimat “tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya” dibuktikan pula dalam kehidupan insan zaman sekarang. Orang Islam mempunyai sumber rujukannya sendiri, dan begitu pula orang-orang non-muslim. Menghadapi kenyataan menyerupai ini, Al-Qur’an memperlihatkan keterangan bahwa setiap muslim perlu mengedepankan sikap yang siap berkompetisi dalam hal kebajikan. Artinya setiap diantara kita perlu mengutamakan semangat kompetisi atau semangat berlomba untuk kebajikan. Inilah nilai hakiki dari ayat yang dikemukakan Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 148. Ayat ini pun memberi keterangan bahwa berbuat baik itu tidak mesti alasannya kita sedang berada di satu daerah (misalnya di masjid atau di sekolah).

Dimanapun kita berada, bila ada kesempatan untuk berbuat baik, seorang muslim harus senantiasa memanfaatkannya sebagai peluang atau lahan ibadah. Berbuat baik atau berlomba dalam kebaikan tidak mesti hanya di lingkungan sekolah, di rumah, atau di masjid. Pada tempat-tempat tersebut, kita tetap untuk menjunjung tinggi dan berlomba dalam kebaikan, namun di lingkungan RT, RW, di kelurahan, lapangan sepakbola, pasar, Mall atau di daerah kerja pun, semangat berlomba dalam kebajikan ini harus terus dijunjung tinggi. Karena sesungguhnya, Allah Swt akan tetap mengumpulkannya sebagai bab dari amal sholeh seorang muslim. (Sumber referensi: Buku PAI)

Nih Surah Al-Baqarah Ayat 30 (Terjemahan & Tafsir / Kandungan Baqarah 30 | Insan Sebagai Khalifah)

Berikut ialah surah al-baqarah ayat 30 beserta terjemahan artinya:
 dikala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat Nih Surah Al-Baqarah Ayat 30 (Terjemahan & Tafsir / Kandungan Baqarah 30 | Manusia Sebagai Khalifah)
Artinya:
       Dan (ingatlah) dikala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ”Aku hendak mengakibatkan khalifah di bumi.” Mereka berkata, ”Apakah Engkau hendak mengakibatkan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana. Sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, ”Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kau ketahui.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 30)

Kandungan Surah Al-Baqarah ayat 30:
      Surah al-Baqarah ayat 30 ini menjadi dongeng pembuka eksistensi dan eksistensi insan di muka bumi ini. Di hadapan para malaikat, Allah Swt. memberikan iradah-Nya bahwa Dia akan mengangkat seorang khalifah pengganti Allah dalam memakmurkan bumi. Tidak ibarat biasa para malaikat yang selalu berkata sami’na- wa at.a’na- terkejut mendengarnya pernyataan iradah Allah Swt. itu.
     ”Apakah Engkau akan mengakibatkan seorang yang merusak bumi dan menumpahkan darah sebagai khalifah di bumi?” Inilah reaksi para malaikat. Mereka mempertanyakan kebijakan Allah Swt. tersebut. Allah pun menjawabnya dengan bijak, ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kau ketahui.” Selanjutnya, Allah Swt. mengungkapkan diam-diam kemampuan insan kepada para malaikat. Allah menyuruh Adam, insan pertama, untuk menyebutkan nama-nama beberapa benda yang ada di sekitarnya. Dengan kemampuan dan pengetahuan yang dikaruniakan Allah Swt. kepada manusia, malaikat pun tunduk pada kehendak Allah Swt.
      Dalam ayat di atas dengan sangat terang bahwa Allah Swt. mengakibatkan insan sebagai khalifah di bumi. Khalifah mempunyai dua makna, yaitu menggantikan dan menguasai. Makna menggantikan sanggup kita lihat pada ayat 30 Surah al-Baqarah ini. Manusia ditunjuk Allah Swt. sebagai pengganti Allah Swt. dalam mengolah bumi sekaligus memakmurkannya.
      Manusia diberi kiprah dan tanggung jawab untuk menggali potensi-potensi yang terdapat di bumi ini, mengolahnya, dan menggunakannya dengan baik sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah Swt.
      Makna khalifah yang kedua ialah menguasai atau menjadi penguasa. Makna ini sanggup kita temukan dalam kata khalifah yang terdapat dalam Surah S.ad [38] ayat 26 yang artinya: ”(Allah Swt. berfirman) Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara insan dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu alasannya akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.” Pada ayat ini disebutkan bahwa Allah Swt. mengakibatkan Nabi Daud a.s. sebagai khalifah di bumi dengan arti menjadi penguasa di kalangan Bani Israel. Saat di antara kaum Bani Israel terdapat perselisihan, Nabi Daud selaku penguasa diperintahkan untuk memperlihatkan keputusan dengan adil. Selaku penguasa, seorang khalifah dituntut untuk senantiasa berbuat adil kepada masyarakatnya. Ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa
akan memperlihatkan akhir jelek bagi korbannya dan masyarakat secara umum.
 dikala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat Nih Surah Al-Baqarah Ayat 30 (Terjemahan & Tafsir / Kandungan Baqarah 30 | Manusia Sebagai Khalifah)
      Terlepas dari kedua makna khalifah, insan menempati kedudukan istimewa di muka bumi ini. Bukan berarti insan diistimewakan kemudian boleh berbuat semaunya, melainkan sebaliknya. Kedudukan istimewa insan menuntut kearifan dan tanggung jawab besar terhadap alam dan masyarakatnya. Amanah ini merupakan kiprah bagi semua manusia. Dengan demikian, setiap insan harus melakukan kiprah tersebut dengan sebaik-baiknya. Melakukan tindakan yang sanggup merusak
alam menimbulkan insan lalai terhadap kiprah yang diembannya.

Nih Surah Al-Fatir Ayat 32 (Arab, Terjemahan, Tajwid, Dan Kandungan Al-Fatir Ayat 32)

Berikut yakni arab dari surah al-Fatir ayat 32:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Terjemahan:
Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, kemudian di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu yakni karunia yang amat besar. (Qs. Al-Fatir: 32)

Tajwid Surah Al-Fatir Ayat 32
    Dalam ayat 32 surah Al-Fatir, ada beberapa aturan tajwid gres yang perlu diketahui. Selain aturan tajwid yang sudah dikemukakan di dikala membahas ayat 148 surat Al-Baqarah, pada ayat ini, terdapat:
 Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang Nih Surah Al-Fatir Ayat 32 (Arab, Terjemahan, Tajwid, dan Kandungan Al-Fatir Ayat 32)
1. Mad liin, yaitu teknik membaca yang mempunyai satu harkat dan dibaca sesuai dengan karakter hurufnya sendiri. Misalnya, abjad fathah bertemu “wa mati” di baca pendek dengan lafal “Summa awrasna”.
2. Huruf qalqalah, yaitu membaca abjad qolqolah secara tebal. Misalnya pada kata abjad “qof mati” dalam kata “muqtashid” dibaca “muqqtashid”.
3. Lam jalalah tafhim, artinya bila ada kata “allah” yang didahului dengan “kasroh” maka dibacanya tipis, contohnya pada kata “biidznillah” bukan “biiznillah”.

Kandungan Al-Qur’an Surat Al-Fatir ayat 32
    Ayat 32 dalam surah ini mengandung tiga pelajaran yang menarik bagi seorang muslim. Pertama, Al-Qur’an ini diwariskan kepada orang-orang yang dipilih. Secara umum, Al-Qur’an memang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, namun dalam pelaksanaannya isi dan kandungan dalam Al-Qur’an ini hanya mempunyai kegunaan bagi mereka yang meyakini kebenaran Al-Qur’an itu sendiri. Orang-orang yang beriman kepada kandungan isi Al-Qur’an itulah yang disebut sebagai kelompok pilihan sebagaimana yang dinyatakan pada awal ayat.

    Kedua, Al-Qur’an membagi tiga kelompok insan dalam menghadapi AlQur’an, yaitu: 
  1. Mereka yang menolak Al-Qur’an, kelompok ini disebut sebagai kelompok yang menzalimi diri sendiri, artinya yaitu kelompok orang yang Menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, 
  2. Kelompok yang mendapatkan Al-Qur’an setengah-setengah atau disebut muqtashid, yaitu orang-orang yang memilih-milih anutan Al-Qur’an sesuai dengan kepentingan nafsunya sendiri.
  3. Kelompok orang yang mendapatkan Al-Qur’an sepenuhnya dan mereka berlomba-lomba dalam kebajikan. (Referensi: Buku PAI)

Nih Surah Al-Baqarah Ayat 177 (Arab, Terjemahan, Tajwid, Dan Kandungan) | Wacana Menyantuni Kaum Dhuafa

Berikut yaitu bacaan surah al-Baqarah ayat 177:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (177)

Terjemahan:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memperlihatkan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, bawah umur yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.

Tajwid Al-Baqarah 177
    Pada ayat ini, ada beberapa aksara tajwid penting yang sanggup menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai cara membaca bahasa arab, yaitu:
  1. Alif lam qamariah : artinya aksara lam di awal kata di baca jelas. Huruf ini ditandai dengan simbol sukun (huruf mati), contohnya alif lam pada kalimat “wal maghrib, wal yaumil akhir”.
  2. Mad asli, yaitu fathah bertemu dengan alif, kasrah bertemu dengan aksara “ya” atau dhommah bertemu dengan aksara “wau”. Misalnya kata “qu” dalam “sadaqu”.
  3. Mad wajib muthashil, yaitu mad orisinil dalam satu kata dengan panjang 5-6 harokat menyerupai pada kalimat “ulaika”.
  4. Alif lam syamsiah, artinya aksara lam di awal kata tidak dibaca. Huruf ini ditandai dengan symbol syakkal (tasydid), contohnya alif lam pada kalimat “wa sailin” dan “wa sabirin”.


Kandungan Surah Al-Baqarah 177
    Pada ayat tersebut ditemukan info yang sangat terang bahwa kebaikan itu bukan solat menghadap timur dan barat, melainkan dalam bentuk sikap aktual dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan kiblat dari timur ke barat, sebenarnya yaitu salah satu hak Allah Swt., namun dengan tegas Allah Swt berfirman bahwa perubahan itu jangan dijadikan percekcokan atau perdebatan, alasannya yaitu sebenarnya kebaikan dalam Islam itu yaitu perbuatan aktual dalam kehidupan sehari-hari.
Merujuk pada ayat ini, setidak-tidaknya ada sebelas ciri sikap kebaikan, yaitu:
  1. beriman kepada Allah, 
  2. beriman kepada hari Kemudian, 
  3. beriman kepada malaikat-malaikat, 
  4. beriman kepada kitab-kitab, 
  5. beriman kepada nabi-nabi, 
  6. memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anakanak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, 
  7. dan (memerdekakan) hamba sahaya,
  8. mendirikan shalat, 
  9. dan menunaikan zakat, 
  10. dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, 
  11. dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Dengan melakukan sebelas acara itulah, mereka disebut sebagai orang-orang yang benar imannya, dan diposisikan sebagai orang yang bertakwa. Bahkan, Hatim al-Asham menyerupai dikutip Ibnu Hajar al-Asqalani beropini bahwa, “barangsiapa mengakui kecintaan kepada Nabi, tapi ia membenci fakir miskin (tidak menyantuni mereka), maka pengakuannya yaitu dusta”.

Nih Surat Al-Mukminun Ayat 12-14 (Proses Kejadian Insan | Terjemah Dan Kandungan Al-Mukminun 12-14)

Berikut yaitu surah al-mukminun ayat 12-14 beserta dengan terjemahan maknanya:
Artinya: 
       Dan sungguh, Kami telah membuat insan dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam kawasan yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, kemudian sesuatu yang menempel itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. (Q.S. al-Mukminun [23]: 12–14)

Kandungan Surah Al-Mukminun Ayat 12–14:
     Pada Surah al-Baqarah [2] ayat 30 Allah Swt. menyatakan kehendak- Nya untuk menyebabkan insan sebagai khalifah di muka bumi. Pada ayat ke-12 hingga 14 Surah al-Mu’minu-n [23] dibahas proses penciptaan manusia.
     Dalam ayat ini Allah Swt. memaparkan proses penciptaan insan yang diawali dari saripati tanah. Dalam ayat yang lain juga dijelaskan ihwal tahap pertama insan ketika ia masih tersebar di muka bumi dan belum sanggup disebut. Pada tahap pertama, bahan-bahan penciptaan insan masih tersebar pada tumbuhan dan binatang yang dikonsumsi oleh ayah dan ibu. Bahan penciptaan insan itu berupa unsur-unsur kimiawi yang terdapat dalam makanan. Unsur-unsur tersebut diserap oleh calon ayah dan calon ibu melalui kuliner yang dikonsumsinya.
      Unsur-unsur dasar insan itu diolah sedemikian rupa melalui proses kimiawi dalam badan hingga bermetamorfosis menjadi sperma calon ayah dan ovum calon ibu. Sperma dan ovum yaitu dua zat khusus yang dibuat oleh Allah Swt. dengan membawa bermiliar-miliar gosip genetika seorang anak manusia. Sperma dan ovum berkembang dan Allah Swt. memperkaya keduanya dengan kemampuan untuk berbagi diri ketika bertemu nanti.
      Melalui proses penyatuan yang dramatis, sperma dan ovum bertemu dan menyatukan diri. Proses tersebut terjadi dengan penuh kecermatan dan ketepatan yang hanya bisa diatur oleh Zat yang Mahapandai atas segala sesuatu. Keduanya bertemu, mengomunikasikan gosip yang mereka bawa dan berlanjut dalam perkembangan yang luar biasa. Dua sel insan berlainan jenis itu menyatu kemudian membelah dan terus membelah. Tiap-tiap sel gres membentuk jalinan yang berpengaruh di antara mereka. Setelah mulai terbentuk, sel-sel calon insan itu mencari kawasan berlabuhnya di dinding rahim sang ibu.
 Kami telah membuat insan dari saripati  Nih Surat Al-Mukminun Ayat 12-14 (Proses Kejadian Manusia | Terjemah dan Kandungan Al-Mukminun 12-14)
        Mereka menempel berpengaruh dan membentuk jaringan penghubung antara si calon insan dengan sang ibu. Jaringan penghubung ini biasa kita kenal sebagai placenta. Tahap inilah yang dalam dunia kedokteran modern disebut zygot. Hal ini memperlihatkan tanda kekuasaan Allah Swt. sekaligus kebenaran Al-Qur’an. Seribu empat ratus tahun yang lalu, ketika kehidupan bangsa Arab berada di tepi terjauh dari peradaban, ketika orang Badui menganggap bahwa bumi itu datar, Al-Qur’an menyatakan sesuatu yang gres terlihat pada era modern ini.
       Sembari membangun interaksi dengan sang ibu, sel-sel gres itu terus diatur oleh Allah Swt. untuk membelah hingga menjadi segumpal daging kemudian membelah dan membentuk bagian-bagian badan manusia. Tangan, kaki, kepala, jantung, otak, dan semua organ terbentuk dengan bimbingan Allah Swt. Setelah semua bab lengkap, Allah Swt. menyempurnakan bentuknya menjadi bentuk yang sama sekali berbeda dari ketika pertama kali sperma dan ovum bertemu.
Inilah proses pembentukan seorang insan yang diangkat Allah Swt. sebagai khalifah-Nya di bumi. Proses yang tersampaikan dalam Surah al-Mukminun ayat 12–14 ini memberi pelajaran ihwal dua hal penting. Pertama, Allah Swt. yang mengatur penciptaan manusia.
      Hal ini dengan positif terlihat dari tahapan-tahapan pembentukan insan dalam rahim sang
ibu. Bagaimana dua sel, sperma dan ovum yang setengah menit saja dibiarkan di kawasan terbuka
niscaya rusak, sanggup bertemu? Siapa yang mengarahkan pertemuan itu? Adakah sang ayah yang
memperlihatkan komando atau si ibu yang memperlihatkan rute? Setelah keduanya bertemu, siapa yang memperlihatkan daya untuk berubah dan membelah?
      Sperma dan ovum itu mengetahui dengan sendirinya apa yang harus dilakukan. Allah Swt. yang telah membuat semua itu menjadi mungkin. Allah Swt. yang memberi daya sekaligus arah. Allah Swt. yang memperlihatkan apa yang harus dilakukan oleh dua sel lemah itu. Inilah pelajaran
agung dari Sang Maha Pencipta.
      Pelajaran kedua dari surah al-mukminun ayat 12-14 ini yaitu pelajaran bagi kesadaran insan ihwal asal permintaan dirinya dan Tuhan yang telah menciptakannya. Ayat ini mengajak insan merenungkan insiden dirinya. Manusia tidak ada dengan sendirinya melainkan ada alasannya yaitu diadakan oleh Yang Mahaada. Kesadaran ihwal hal ini diperlukan sanggup membawa dampak positif pada sikap manusia, kita bersama, untuk menjadi lebih baik sesuai tuntunan Allah Swt. yang telah menciptakan. Pelajaran Allah Swt. dalam ayat ini memperlihatkan bahwa hadirnya insan di muka bumi ini diadakan oleh Allah Swt. tentu bukan tanpa tujuan. Tujuan hadirnya insan untuk mengemban kiprah sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini. Saat kita sadar ihwal hal ini, kita mengetahui dari mana kita berasal dan kiprah yang harus kita emban di bumi ini.

Nih Pengertian Dan Macam-Macam Aturan Taklifi & Aturan Wad'i

Hukum Taklifi ialah tuntutan Allah yang berkaitan dengan perintah untuk mengerjakan ataupun meninggalkan suatu perbuatan. Hukum taklifi terdiri atas beberapa macam sebagai berikut.
1. Al-Ijab (Wajib)
    Al-ijab atau aturan wajib ialah tuntutan niscaya atau perintah untuk dikerjakan. Pengertian wajib yang lain ialah sesuatu yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan akan mendapat dosa. Jika seseorang meninggalkan tuntutan yang sudah niscaya tersebut, dikenai hukuman atau hukuman. Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan ayat-ayat yang menyebutkan perintah Allah di antaranya ditunjukkan dengan adanya tanda perintah atau dalam tata bahasa Arab dikenal dengan fi’il amr.
Contohnya pada ayat yang berbunyi, ” . . . . dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat . . . ” (Q.S. al-Baqarah[2]: 110). Dengan perintah itu, aturan salat dan zakat ialah wajib. Meskipun demikian, kadang bentuk perintah juga berarti sunah.
 ialah tuntutan Allah yang berkaitan dengan perintah untuk mengerjakan ataupun meninggalk Nih Pengertian dan Macam-Macam Hukum Taklifi & Hukum Wad'i
    Ciri-ciri lainnya dengan memakai lafal farada, kutiba, atau wajaba yang semuanya mengandung arti diwajibkan. Selain itu, ketentuan al-ijab sanggup ditunjukkan dengan kalimat isu yang bermakna menyuruh. Hukum wajib ini dibagi menjadi beberapa macam. Agar lebih jelas, Anda sanggup memperhatikan tabel berikut ini.
 ialah tuntutan Allah yang berkaitan dengan perintah untuk mengerjakan ataupun meninggalk Nih Pengertian dan Macam-Macam Hukum Taklifi & Hukum Wad'i
2. An-Nadb (Sunah)
    An-nadb atau sunah ialah tuntutan untuk melaksanakan suatu perbuatan, tetapi tidak secara niscaya atau harus. Sunah yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Jika seseorang meninggalkan tuntunan tersebut tidak mendapat dosa. Contohnya ayat berbunyi:
”. . . Apabila kau bermuammalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan hendaklah kau menuliskannya” (Q.S. al-Baqarah [2]: 282).
Kata hendaklah atau utamanya mengatakan tuntunan, meskipun bukan menjadi keharusan. Hukum an-nadb sanggup ditunjukkan dengan penggunaan kata yang berarti sunah, ibarat yusannu kaza atau yundabu kaza. Bisa juga ditunjukkan dengan memakai kata perintah yang bermakna sunah, ibarat klarifikasi dalam Surah al-Isra’ [17] ayat 79 perihal sunahnya salat tahajud.
 ialah tuntutan Allah yang berkaitan dengan perintah untuk mengerjakan ataupun meninggalk Nih Pengertian dan Macam-Macam Hukum Taklifi & Hukum Wad'i
3. Al-Ibahah (Mubah)
    Al-ibahah atau mubah ialah penetapan Allah yang mengandung kebolehan menentukan antara melaksanakan atau meninggalkannya. Perbuatan yang boleh dipilih ini dikenal juga dengan mubah. Contohnya pada ayat
yang artinya, ”Apabila telah dilakukan salat, maka bertebaranlah kau ke muka bumi dan carilah karunia (rezeki) Allah . . . .” (Q.S. al-Jumu’ah [62]: 10). Dalam ayat ini klarifikasi carilah karunia Allah, contohnya dengan berdagang, hukumnya dibolehkan. Ciri-ciri lain yaitu memakai kalimat lajunaha, laharaja, laisma, dan lainnya yang berarti tidak tidak boleh atau tidaklah berdosa. Dapat juga dengan tanda penggunaan kata uhilla yang artinya dihalalkan.
4. Karahah (Makruh)
    Karahah ialah tuntunan untuk meninggalkan suatu perbuatan, tetapi tidak bersifat niscaya atau harus sehingga bila melaksanakannya tidaklah berdosa. Perbuatan tersebut disebut dengan makruh. Contohnya sabda Rasulullah dalam riwayat Abu Daud yang menjelaskan bahwa perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah ialah talak. Meskipun talak halal, tetapi dibenci oleh Allah sehingga hukumnya makruh. Tanda-tanda karahah contohnya bila terdapat lafal karaha yang berarti dimakruhkan atau adanya lafal berbentuk perintah, tetapi yang tidak menghalalkan.
5. Tahrim (Haram)
    Tuntunan atau perintah untuk tidak mengerjakan yang bersifat pasti. Tuntunan yang tidak boleh tersebut dikenal dengan istilah haram.
Contohnya dalam ayat yang menjelaskan, ”. . . diharamkan bagimu bangkai, . . .” (Q.S. al-Ma’idah[5] ayat 3). Contoh perbuatan haram lainnya ialah meminum minuman keras, berzina, durhaka kepada orang tua, berjudi, dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya.
    Tahrim ditunjukkan dengan gejala kalimat yang bermakna pengharaman, ibarat kata harrama, hurrima, atau layahillu, yang seluruhnya mengandung makna pengharaman atau tidak dihalalkan. Tanda lainnya, yaitu adanya kalimat yang berbentuk fi’il nahi atau kata kerja yang berarti larangan atau kata perintah untuk menjauhi.
Penerapan Hukum Taklifi
    Memahami ketentuan aturan taklifi sangat penting sehingga kita mengetahui ketentuan aturan mengerjakan sesuatu. Adakalanya suatu perbuatan harus dikerjakan, wajib ditinggalkan, dan boleh menentukan antara mengerjakan atau meninggalkannya. Sebagai contoh, pada ketika kita membaca Surah al-Baqarah[2] ayat 110, kita menjadi tahu bahwa mengerjakan ibadah salat hukumnya wajib. Ketentuan wajib di sini berarti bahwa perbuatan tersebut harus dikerjakan bila ditinggalkan akan mendapat dosa. Oleh lantaran mengetahui salat hukumnya wajib, kita perlu menerapkannya dengan selalu mengerjakan ibadah salat dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita meninggalkan kewajiban salat tersebut, kita akan menanggung dosa.

Hukum Wad'i
    Penerapan aturan taklifi sebagaimana dijelaskan di atas juga sangat terkait dengan ketentuan aturan wad‘i. Hukum wad‘i adalah ketetapan Allah yang mengandung pengertian bahwa terjadinya suatu aturan ialah lantaran adanya sebab, syarat, ataupun penghalang. Sebagai contoh, ibadah salat yang hukumnya wajib dikerjakan, dalam kondisi-kondisi tertentu justru harus ditinggalkan. Misalnya ketika terjadi haid. Haid menjadi penghalang diwajibkannya salat bagi perempuan. 
 ialah tuntutan Allah yang berkaitan dengan perintah untuk mengerjakan ataupun meninggalk Nih Pengertian dan Macam-Macam Hukum Taklifi & Hukum Wad'i
Ketentuan aturan wad‘i secara lengkap ialah sebagai berikut:
1. Sebab
    Sesuatu yang mendasari adanya hukum. Dengan adanya alasannya ialah maka ada hukum. Contohnya terbitnya fajar menjadikan wajibnya mengerjakan salat Subuh.
2. Syarat
    Sesuatu yang berada di luar hukum, tetapi keberadaan aturan tergantung kepadanya. Akan tetapi, adanya syarat tidak mengharuskan adanya aturan perbuatan. Contohnya sebelum salat disyaratkan berwudu terlebih dahulu. Akan tetapi, orang yang berwudu tidak selalu harus mengerjakan salat.
3. Penghalang (mani’)
    Keadaan yang dengan adanya penghalang ini, tidak menjadikan adanya hukum. Contohnya wanita yang sedang haid menjadikan tidak diwajibkannya mengerjakan salat.
4. Sah
    Perbuatan aturan yang telah terpenuhi aturannya, ibarat syarat, sebab, dan tidak adanya penghalang. Contohnya salat Subuh sah bila telah terbit fajar, dikerjakan sehabis berwudu, dan tidak ada penghalang bagi yang mengerjakan.
5. Batal
    Terlepasnya aturan dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Contohnya bertransaksi jual beli secara riba. Jual beli tersebut dianggap batal lantaran mengandung fasad sehingga transaksinya pun dianggap tidak sah. (Satria Effendi dan M.Zein.2005.Halaman 62–67)
    Itulah tadi bahasan mengenai aturan taklifi dan wad'i, baca juga sumber-sumber aturan islam, biar bermanfaat :)

Nih Keyakinan Kepada Rasul-Rasul Allah


A. Pengertian Iman Kepada Rasul-rasul Allah
     Iman kepada Rasul Allah termasuk rukun kepercayaan yang keempat dari enam rukun yang wajib diimani oleh setiap umat Islam. Yang dimaksud kepercayaan kepada para rasul ialah meyakini dengan sepenuh hati bahwa para rasul ialah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah swt. untuk mendapatkan wahyu dariNya untuk disampaikan kepada seluruh umat insan biar dijadikan pedoman hidup demi memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

    Di antara para rasul itu ada yang diceritakan kisahnya di dalam Al-Quran dan ada yang tidak.
"Dari Abu Dzar ia berkata: Saya bertanya, wahai Rasulullah : berapa jumlah para nabi? Beliau menjawab: Jumlah para Nabi sebanyak 124.000 orang dan di antara mereka yang termasuk rasul sebanyak 315 orang suatu jumlah yang besar." (H.R. Ahmad)

    Berdasarkan hadis di atas jumlah nabi dan rasul ada 124.000 orang, diantaranya ada 315 orang yang diangkat Allah swt. menjadi rasul. Diantara 315 orang nabi dan rasul itu, ada 25 orang yang nama dan sejarahnya tercantum dalam Al Alquran dan mereka inilah yang wajib kita ketahui, yaitu:
1. Adam AS. 
       bergelar Abu al-Basyar (Bapak semua manusia) atau insan pertama yang Allah swt. ciptakan, tanpa Bapak dan tanpa Ibu, terjadi atas perkenanNya “ Kun Fayakun” artinya “ Jadilah ! , maka terjelmalah Adam.”Usia nabi Adam mencapai 1000 tahun.
2. Idris AS. 
       ialah keturunan ke 6 dari nabi Adam. Beliau diangkat menjadi Rasul setelah berusia 82 tahun. Dilahirkan dan dibesarkan di sebuah tempat berjulukan Babilonia. Beliau berguru kepada nabi Syits AS.
3. Nuh AS. 
       ialah keturunan yang ke 10 dari nabi Adam. Usianya mencapai 950 tahun. Umat dia yang membangkang ditenggelamkan oleh Allah swt. dalam banjir yang dahsyat. Sedangkan dia dan umatnya diselamatkan oleh Allah swt. lantaran naik perahu yang sudah dia persiapkan atas petunjuk Allah swt.
4. Hud AS. 
       ialah seorang rasul yang diutus kepada bangsa ‘Ad yang menempati tempat Ahqaf, terletak diantara Yaman dan Aman (Yordania) hingga Hadramaut dan Asy-Syajar, yang termasuk wilayah Saudi Arabia.
5. Shaleh AS.
       Beliau masih keturunan nabi Nuh AS. diutus untuk bangsa Tsamud, menempati tempat Hadramaut, yaitu daratan yang terletak antara Yaman dan Syam (Syiria). Kaum Tsamud bekerjsama masih keturunan kaum ‘Ad.
6. Ibrahim AS. 
       putra Azar si pembuat patung berhala. Dilahirkan di Babilonia, yaitu tempat yang terletak antara sungai Eufrat dan Tigris. Sekarang termasuk wilayah Irak. Beliau berseteru dengan raja Namrud, sehingga dia dibakarnya dalam api yang sangat dahsyat, tetapi Nabi Ibrahim tidak mempan dibakar, lantaran diselamatkan Allah swt. Beliau juga dikenal sebagai Abul Anbiya (bapaknya para nabi), lantaran anak cucunya banyak yang menjadi nabi dan rasul. Syari’at dia banyak diamalkan oleh Nabi Muhammad saw. antara lain dalam ibadah haji dan Ibadah Qurban, termasuk khitan.
7. Luth AS. 
       Beliau keponakan nabi Ibrahim, dan dia banyak mencar ilmu agama dari nabi Ibrahim. Diutus oleh Allah swt. kepada kaum Sodom, pecahan dari wilayah Yordania. Kaum nabi Luth dihancurkan oleh Allah swt. dengan diturunkan hujan watu bercampur api lantaran kedurhakaannya kepada Allah swt, terutama lantaran sikap mereka yang suka mensodomi kaum laki-laki.
8. Ismail AS. 
       ialah putra nabi Ibrahim AS. bersama ayahnya membangun (merenovasi) Ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam. Beliau ialah seorang anak yang dikurbankan oleh ayahnya Ibrahim, sehingga menjadi dasar pensyari’atan ibadah Qurban bagi umat Islam.
9. Nabi Ishak AS. 
       putra Nabi Ibrahim dari isterinya, Sarah. Makara nabi Ismail dengan nabi Ishak ialah saudara sebapak, berlainan ibu.
10. Ya’qub AS. 
       ialah putra Ishaq AS. Beliaulah yang menurunkan 12 keturunan yang dikenal dalam Al Alquran dengan sebutan al Asbath, diantaranya ialah nabi Yusuf yang kelak akan menjadi raja dan rasul Allah swt.
11. Yusuf AS.
       putra nabi Ya’qub AS.Beliaulah nabi yang dikisahkan dalam al Alquran sebagai seorang yang mempunyai paras yang tampan, sehingga semua perempuan bisa tergila-gila melihat ketampanannya, termasuk Zulaiha isteri seorang pembesar Mesir (bacalah kisahnya dalam Q.S. surah yusuf).
12. Ayyub AS. 
       ialah putra Ish . Ish ialah saudara kandung Nabi Ya’qub AS. berarti paman nabi Yusuf AS. Makara nabi Ayyub dan nabi Yusuf ialah saudara sepupu. Nabi Ayyub digambarkan dalam Al Alquran sebagai orang yang sangat sabar. Beliau diuji oleh Allah swt. dengan penyakit kulit yang sangat dahsyat, tetapi tetap bersabar dalam beribadah kepada Allah swt. (bacalah kembali kisahnya)
13. Dzulkifli AS. 
       putra nabi Ayyub AS. Nama aslinya ialah Basyar yang diutus setelah Ayyub, dan Allah memberi nama Dzulkifli lantaran ia senantiasa melaksanakan ketaatan dan memeliharanya secara berkelanjutan
14. Syu’aib AS.
       masih keturunan nabi Ibrahim. Beliau tinggal di tempat Madyan, suatu perkampungan di tempat Mi’an yang terletak antara syam dan hijaz bersahabat danau luth. Mereka ialah keturunan Madyan ibnu Ibrahim a.s.
15. Yunus AS. 
       ialah keturunan Ibrahim melalui Bunyamin, saudara kandung Yusuf putra nabi Ya’qub. Beliau diutus ke wilayah Ninive, tempat Irak. Dalam sejarahnya dia pernah ditelan ikan hiu selama 3 hari tiga malam didalam perutnya, kemudian diselamatkan oleh Allah swt.
16. Musa AS. 
       ialah masih keturunan nabi Ya’qub. Beliau diutus kepada Bani Israil. Beliau diberi kitab suci Taurat oleh Allah swt.
17. Harun AS. 
       ialah saudara nabi Musa AS. Yang sama-sama berdakwah di kalangan Bani Israil di Mesir.
18. Dawud AS.
       ialah seorang panglima perang bani Israil yang diangkat menjadi nabi dan rasul oleh Allah swt, diberikan kitab suci yaitu Zabur. Beliau punya kemampuan melunakkan besi, suka tirakat, yaitu puasa dalam waktu yang lama. Caranya dengan berselang-seling, sehari puasa, sehari tidak.
19. Sulaiman AS. 
       ialah putra Dawud. Beliau juga populer sebagai seorang raja yang kaya raya dan bisa berkomunikasi dengan hewan (bisa bahasa binatang).
20. Ilyas AS. 
       ialah keturunan Nabi Harun AS. diutus kepada Bani Israil. Tepatnya di wilayah seputar sungai Yordan.
21. Ilyasa AS. 
       berdakwah bersama nabi Ilyas kepada bani Israil. Meskipun umurnya tidak sama, Nabi Ilyas sudah tua, sedangkan nabi Ilyasa masih muda. Tapi keduanya saling pundak membahu berdakwah di kalangan Bani Israil.
22. Zakaria AS. 
       seorang nabi yang dikenal sebagai pengasuh dan pembimbing Siti Maryam di Baitul Maqdis, perempuan suci yang kelak melahirkan seorang nabi, yaitu Isa AS.
23. Yahya AS. 
       ialah putra Zakaria. Kelahirannya merupakan keajaiban, lantaran terlahir dari seorang ibu dan ayah (nabi Zakaria) yang ketika itu sudah bau tanah renta, yang secara lahiriyah mustahil lagi bisa melahirkan seorang anak.
24. Isa AS. 
       ialah seorang nabi yang lahir dari seorang perempuan suci, Siti Maryam. Ia lahir atas kehendak Allah swt, tanpa seorang bapak. Beliau diutus oleh Allah swt. kepada umat Bani Israil dengan membawa kitab Injil. Beliaulah yang dianggap sebagai Yesus Kristus oleh umat Kristen.
25. Muhammad SAW. 
       putra Abdullah, lahir dalam keadaan Yatim di tengah-tengah masyarakat Arab jahiliyah. Beliau ialah nabi terakhir yang diberi wahyu Al Alquran yang merupakan kitab suci terakhir pula.

B.Tugas Para Rasul
    Tugas pokok para rasul Allah ialah memberikan wahyu yang mereka terima dari Allah swt. kepada umatnya. Tugas ini sungguh sangat berat, tidak jarang mereka mendapatkan tantangan, penghinaan, bahkan siksaan dari umat manusia. Karena begitu berat kiprah mereka, maka Allah swt. memperlihatkan keistimewaan yang luar biasa yaitu berupa mukjizat.
    Mukjizat ialah suatu keadaan atau tragedi luar biasa yang dimiliki para nabi atau rasul atas izin Allah swt. untuk mengambarkan kebenaran kenabian dan kerasulannya, dan sebagai senjata untuk menghadapi musuh-musuh yang menentang atau tidak mau mendapatkan pedoman yang dibawakannya.
Adapun kiprah para nabi dan rasul ialah sebagai berikut:
1. Mengajarkan aqidah tauhid, yaitu menanamkan keyakinan kepada umat insan bahwa:
a. Allah ialah Dzat Yang Maha Kuasa dan satu-satunya dzat yang harus disembah (tauhid ubudiyah)
b. Allah ialah maha pencipta, pencipta alam semesta dan segala isinya serta mengurusi, mengawasi dan mengaturnya dengan sendirinya (tauhid rububiyah)
c. Allah ialah dzat yang pantas dijadikan Tuhan, sembahan insan (tauhid uluhiyah)
d. Allah mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan makhluqNya (tauhid sifatiyah)
2. Mengajarkan kepada umat insan bagaimana cara menyembah atau beribadah kepada Allah swt.  Ibadah kepada Allah swt. sudah dicontohkan dengan pasti oleh para rasul, tidak boleh dibikin-bikin atau direkayasa. Ibadah dalam hal ini ialah ibadah mahdhah menyerupai salat, puasa dan sebagainya. Menambah-nambah, merekayasa atau menyimpang dari apa yang telah dicontohkan oleh rasul termasuk kategori “bid’ah,” dan bid’ah ialah kesesatan.
3. Menjelaskan hukum-hukum dan batasan-batasan bagi umatnya, mana hal-hal yang dihentikan dan mana yang harus dikerjakan berdasarkan perintah Allah swt.
4. Memberikan contoh kepada umatnya bagaimana cara menghiasi diri dengan sifat-sifat yang utama menyerupai berkata benar, sanggup dipercaya, menepati janji, sopan kepada sesama, santun kepada yang lemah, dan sebagainya.
5. Menyampaikan kepada umatnya wacana berita-berita mistik sesuai dengan ketentuan yang digariskan Allah swt.
6. Memberikan kabar gembira bagi siapa saja di antara umatnya yang patuh dan taat kepada perintah Allah swt. dan rasulNya bahwa mereka akan mendapatkan jawaban surga, sebagai puncak kenikmatan yang luar biasa. Sebaliknya mereka membawa kabar derita bagi umat insan yang berbuat zalim (aniaya) baik terhadap Allah swt, terhadap insan atau terhadap makhluq lain, bahwa mereka akan dibalas dengan neraka, suatu puncak penderitaan yang tak terhingga.(Q.S. al Bayyinah: 6-8)
    Tugas-tugas rasul di atas, ditegaskan secara singkat oleh nabi Muhammad saw.dalam sabdanya sebagai berikut:
Dari Abi Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw. pernah bersabda: Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia. (H.R. Ahmad bin Hanbal)

C.Tanda-Tanda Beriman Kepada Rasul-rasul Allah
    Di antara gejala orang yang beriman kepada rasul-rasul Allah ialah sebagai berikut:
1.Teguh keimanannya kepada Allah swt
    Semakin besar lengan berkuasa keimanan seseorang kepada para rasul Allah, maka akan semakin besar lengan berkuasa pula keimanannya kepada Allah swt. Ketaatan kepada para rasul ialah bukti keimanan kepada Allah swt. Seseorang tidak bisa dikatakan beriman kepada Allah swt. tanpa disertai keimanan kepada rasulNya. Banyak ayat al Alquran yang menyuruh taat kepada Allah swt. disertai ketaatan kepada para rasulNya, antara lain dalam surah An Nisa ayat 59, Ali Imran ayat 32, Muhammad ayat 33 dan sebagainya.
    Dua kalimat syahadat sebagai rukun Islam pertama ialah pernyataan seorang muslim untuk tidak memisahkan antara keimanan kepada Allah swt. di satu sisi, dan keimanan kepada Rasulullah di sisi lainnya. Dalam bahasa lain, beriman kepada para rasul Allah dengan melaksanakan segala sunah-sunahnya dan menghindari apa yang dilarangnya ialah dalam rangka ketaatan kepada Allah swt.
2. Meyakini kebenaran yang dibawa para rasul
    Kebenaran yang dibawa para rasul tidak lain ialah wahyu Allah baik yang berupa Al-Quran maupun hadis-hadisnya. Meyakini kebenaran wahyu Allah ialah dilema yang sangat prinsip bagi siapapun yang mencari jalan keselamatan, lantaran wahyu Allah sebagai sumber petunjuk bagi manusia.
    Seseorang akan bisa meyakini kebenaran wahyu Allah, jikalau terlebih dahulu dia beriman kepada rasul Allah sebagai pembawa wahyu tersebut. Mustahil ada orang yang eksklusif bisa mendapatkan suatu kebenaran yang dibawa oleh orang lain, padahal dia tidak yakin bahkan tidak mengenal terhadap sipembawa kebenaran tersebut.
Allah menjelaskan dalam surah Al Baqarah ayat 285 yang artinya sebagai berikut:
“Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.”(Q.S. Al Baqarah 285)
    Bagi tiap-tiap orang yang beriman wajib meyakini kebenaran yang dibawa oleh para rasul, kemudian mengamalkan atau menepati kebenaran tersebut. Bagi umat Nabi Muhammad saw. tentulah kebenaran atau pedoman yang diamalkannya ialah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
3. Tidak membeda-bedakan antara rasul yang satu dengan yang lain
    Dengan beriman kepada rasul-rasul Allah otomatis berarti tidak membeda-bedakan antara rasul yang satu dengan rasul yang lain. Artinya seorang mukmin dituntut untuk meyakini kepada semua rasul yang pernah diutus oleh Allah swt. Tidak akan terlintas sedikitpun dalam hatinya untuk merendahkan salahsatu dari rasul-rasul Allah atau beriman kepada sebagian rasul dan kufur kepada sebagian yang lain. Sikap seorang mukmin ialah menyerupai yang digambarkan oleh Allah swt. dalam surah Al Baqarah ayat 285: yang artinya sebagai berikut:
"...Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya." Dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Q.S. Al-Baqarah : 285)
4. Menjadikan para rasul sebagai uswah hasanah
    Para rasul yang ditetapkan oleh Allah swt. untuk memimpin umatnya ialah orang-orang pilihan di antara mereka. Sebelum mendapatkan wahyu dari Allah swt, mereka ialah orang-orang yang terpandang di lingkungan umatnya, sehingga selalu menjadi teladan sikap atau suri tauladan bagi orang-orang di lingkungannya.Apalagi setelah mendapatkan wahyu, keteladanan mereka tidak diragukan lagi, lantaran mereka selalu menerima bimbingan dari Allah swt.
Dalam surah Al Ahzab ayat 21 Allah swt. menegaskan sebagai berikut:
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik bagi kamu,” (Q.S. Al Ahzab ayat 21).

Semua rasul Allah mempunyai sifat-sifat terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan pribadi mereka. Sifat-sifat terpuji tersebut ialah sebagai berikut: 1). Shiddiq (benar). Mereka selalu berkata benar, dimana, kapan dan dalam keadaan bagaimanapun mereka tidak akan berdusta (kadzib).
2). Amanah, yaitu sanggup dipercaya, jujur, mustahil khianat.
3). Tabligh, artinya mereka senantiasa konsekwen memberikan kebenaran (wahyu) kepada umatnya. Tidak mungkin mereka menyembunyikan kebenaran yang diterimanya dari Allah swt. (kitman), meskipun mereka harus menghadapai resiko yang besar.
4). Fathanah, artinya semua rasul-rasul ialah manusia-manusia yang cerdas yang dipilih Allah swt. Tidak mungkin mereka ndeso atau idiot (baladah).
c. Khusus nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin para rasul (sayyidul mursalin) menerima sanjungan dan kebanggaan yang luar biasa dari Allah swt. disebabkan lantaran akhlaknya sebagaimana tersebut dalam surah Al Qalam ayat 4 yang artinya “Dan sesungguhnya kau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung “ (Q.S. Al Qalam: 4)
5. Meyakini rasul-rasul Allah sebagai rahmat bagi alam semesta
Setiap rasul yang diutus oleh Allah swt. pasti membawa rahmat bagi umatnya. Artinya kedatangan rasul dengan membawa wahyu Allah ialah bukti kasih sayang (rahmat) Allah terhadap manusia.        
    Rahmat itu akan betul-betul bisa diraih oleh insan (umatnya) manakala mereka eksklusif merespon terhadap kiprah rasul tersebut. Di dalam Al-Quran dikatakan bahwa diutusnya Nabi Muhammad saw. ke dunia merupakan rahmat (kesejahteraan) hidup di dunia dan akhirat."Dan tidaklah Kami mengutus kau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta." (Q.S. Al-Anbiya : 107)
6. Meyakini Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi dan Rasul terakhir
    Nabi Muhammad saw. ialah nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah swt. ke muka bumi ini. Tidak akan ada lagi nabi atau rasul setelah dia saw. Hal ini merupakan keyakinan umat Islam yang sangat prinsip dan telah disepakati oleh seluruh ulama mutaqaddimin dan mutaakh-khirin yang didasarkan kepada dalil-dalil naqli yang qath’i (pasti) dan dalil-dalil “aqli yang logis antara lain sebagai berikut:
Q.S. Al Ahzab ayat 40 yang artinya: “ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang pria diantara kamu, tetapi dia ialah rasulullah dan epilog para nabi. Dan ialah Allah maha mengetahui terhadap segala sesuatu. (Q.S. Al Ahzab: 40)
Dalam ayat ini Allah menyatakan secara terperinci bahwa Muhammad ialah khatamannabiyin (penutup para nabi).

7. Mencintai Nabi Muhammad saw.
    Mencintai nabi Muhammad saw. ialah suatu keniscayaan dan menduduki peringkat yang paling tinggi, tentu setelah kecintaan kepada Allah swt, dibandingkan dengan kecintaan kepada selain beliau. Seseorang belum dikatakan sungguh-sungguh mengasihi Rasulullah saw. jikalau ia masih menomorduakan kecintaan kepada dia di bawah kecintaan kepada selain beliau. Mari kita renungkan firman Allah swt. dalam Q.S. At-Taubah ayat 24 yang artinya sebagai berikut:
“ Katakanlah , “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri dan kaum keluarga kalian ; juga harta kekayaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai ialah lebih kalian cintai daripada Allah dan RasulNya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya.” Allah tidak memperlihatkan petunjuk kepada orang-orang fasiq.” (Q.S. At-Taubah ayat 24)
    Kecintaan kepada Allah swt. dan Rasul-Nya juga merupakan parameter keimanan seseorang. Lebih dari itu, manisnya kepercayaan akan dirasakan seorang muslim jikalau dia telah mengakibatkan Allah swt. dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada ragam kecintaannya kepada sekelilingnya. Rasulullah saw. telah bersabda:
Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya, ia telah menemukan manisnya iman: 1) orang yang mengasihi Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lainnya; 2) orang yang mengasihi seseorang hanya lantaran Allah; 3) orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam api neraka.
(H.R. Muttafaq alaih )


D.Bukti-bukti Cinta Kepada Rasul
    Bukti-bukti cinta kepada Rasul harus meneladani seluruh aspek kehidupan Rasulullah, misalnya:
1. Dalam ibadahnya; diwujudkan dalam bentuk ketundukan dalam menjalankan dan memelihara salat sesuai dengan tuntunan beliau. Beliau bersabda:
Salatlah kalian sebagaimana saya salat. (H.R. Bukhari)
2. Dalam tatacara berpakaian yang menutup aurat, sopan, higienis dan indah, makan makanan yang halal, higienis dan bergizi, makan tidak hingga kenyang, tidak makan kecuali setelah dalam keadaan lapar.
3. Dalam berkeluarga, contohnya sebagai seorang suami yang harus melindungi, mengasihi dan menyayangi keluarganya. Beliau bersabda:
Telah ditanamkan padaku di dunia ini tiga perkara: rasa cinta kepada wanita, wewangian, serta dijadikan mataku sejuk terhadap salat. (H.R. an-Nasai)
4. Sebagai pemimpin umat, Beliau lebih mendahulukan kepentingan umatnya daripada kepentingan pribadinya; Beliau bukan tipe insan individualistik yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
5. Sebagai anggota masyarakat, Beliau bukan insan yang suka berdiam diri di rumah seraya memisahkan diri dengan masyarakat sekitar, tetapi selalu berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat dan sering mengunjungi rumah-rumah para sahabatnya.

E. Nilai-nilai Yang Harus Diaplikasikan Dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Istiqamah dalam menjalankan syari’at agama
2. Tabah dan sabar dalam menghadapi petaka
3. Selalu optimis dan tidak pernah frustasi
4. Peduli terhadap kaum dhu’afa
5. Selalu melaksanakan ibadah-ibadah sunah
6. Tidak membeda-bedakan para Rasul-rasul Allah
7. Meyakini isi kitab-kitab yang dibawa oleh para Rasul
8. Meyakini para Rasul mempunyai sifat-sifat terpuji
9. Menjadikan Rasul sebagai suri tauladan

(Dinukil dari buku” Detik-detik Terakhir Kehidupan Rasulullah saw, hal 75-79 disusun oleh K.H. Firdaus A.N., Publicita, Jakarta , 1977)(image source:google.com)

Nih Keyakinan Kepada Kitab-Kitab Allah

   Kitab Allah adalah catatan-catatan yang difirmankan oleh Allah kepada para nabi dan rasul. Umat Islam diwajibkan meyakininya, lantaran mempercayai kitab-kitab selain Al Qur'an sesuai dengan salah satu Rukun Iman. Jumlah kitab yang telah diturunkan sebanyak 104 kitab suci.
 
Etimologi
       Tulisan-tulisan firman Allah (Kitab Allah) zaman dahulu dibentuk menjadi 2 jenis, yaitu sanggup berupa shuhuf dan mushaf.

       Kedua kalimat itu berasal dari akar kalimat yang sama yaitu, "sahafa" (menulis). Shuhuf (tunggal: sahifa) berarti sepenggal kalimat yang ditulis dalam material menyerupai kertas, kulit, papirus dan media lain. Sedangkan mushaf (jamak: masahif) berarti kumpulan-kumpulan shuhuf, yang dibundel menjadi satu, menyerupai 2 sampul dalam satu isi.
       Dalam sejarah penulisan dari teks Qur'an, suhuf terdiri dari beberapa lembaran yang pada akibatnya Qur'an dikumpulkan pada masa Abu Bakar. Dalam suhuf tersebut susunan tiap ayat di dalam surah telah tepat, tetapi lembaran-lembaran yang ada belumlah tersusun dengan rapi, tidak dibundel menjadi satu isi. Kalimat mushaf pada ketika ini mempunyai arti lembaran-lembaran yang dikumpulkan di dalam Qur'an yang telah dikoleksikan pada masa Utsman bin Affan. Pada ketika itu, tiap ayat di dalam surah telah disusun dengan rapi. Saat ini umat Islam juga menyebut setiap duplikat Qur'an, yang mana mempunyai keteraturan tiap ayat dan surah disebut mushaf.
Shuhuf
Beberapa nabi yang dikatakan mempunyai shuhuf adalah:
  • Adam - 10 shuhuf
  • Syits - 60 shuhuf, (pendapat lain menyampaikan 50 shuhuf)
  • Khanukh - 30 shuhuf
  • Ibrahim - 30 shuhuf (10 shuhuf)
  • Musa - 10 shuhuf

Mushaf
       Beberapa suhuf yang telah dicatat dari firman Allah kemudian dijadikan satu yang mempunyai nama bermacam-macam, yang telah diberikan kepada para rasul-Nya. Di antaranya adalah:
1.Taurat (Torah)
       Taurat yakni goresan pena berbahasa Ibrani, berisikan syariat (hukum) dan kepercayaan yang benar dan diturunkan melalui Musa. Isi pokok Taurat yakni 10 firman Allah bagi bangsa Israel. Selain itu, Taurat berisikan perihal sejarah nabi-nabi terdahulu sampai Musa dan kumpulan hukum.

2.Zabur (Mazmur)
       Zabur berisi mazmur (nyanyian kebanggaan bagi Allah) yang dibawakan melalui Daud yang berbahasa Qibti. Kitab ini tidak mengandung syariat, lantaran Daud diperintahkan untuk meneruskan syariat yang telah dibawa oleh Musa.

3.Injil
       Bibel pertama kali ditulis memakai bahasa Suryani melalui murid-murid Isa untuk bangsa Israel sebagai penggenap anutan Musa. Kata Bibel sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu euangelion yang berarti "kabar gembira". Injil-injil tidak mempunyai pembahasan sistematis mengenai satu tema atau tema-tema tertentu, meskipun di dalamnya banyak membahas hal kerajaan Surga. Bibel yang ada ketika ini mengandung firman Allah dan riwayat Isa, yang semuanya ditulis oleh generasi sesudah Isa.

4.Al-Qur`an
       Al-Qur`an merupakan kumpulan firman yang diberikan Allah sebagai satu kesatuan kitab sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat muslim. Menurut syariat Islam, kitab ini dinyatakan sebagai kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, selalu terjaga dari kesalahan, dan merupakan tuntunan membentuk ketaqwaan manusia.

Tampilan Al-Qur`an dianggap unik, lantaran berupa prosa berirama, puisi epik, dan simfoni dalam keterpaduan teks yang indah. Isi Al-Qur`an juga dianggap unik, berupa paduan filsafat semesta, catatan sejarah, peringatan-peringatan dan hiburan, dasar-dasar hukum, serta doa-doa.
Bagi umat Islam, tidak disyariatkan untuk mempelajari isi Taurat, Zabur, dan Bibel yang ada ketika ini, lantaran berdasarkan anutan Islam, dianggap telah mengandung aneka macam tafsiran yang tidak benar[4] dan lantaran isi kesemua kitab yang masih diperlukan, telah dimasukkan ke dalam kitab Al-Qur`an. Namun tidak diharapkan juga upaya untuk menyerang atau menyalah-nyalahkan isi Taurat, Zabur, atau Injil, lantaran terdapat ayat-ayat Allah di dalamnya.

Al-Qur`anul Karim kitab paling mulia
       Al-Qur`anul Karim yakni kitab termulia, diturunkan kepada Nabi paling utama, dengan membawa syari’at paling mulia. Al-Qur`an merupakan kitab terakhir, membenarkan kitab-kitab terdahulu sekaligus menyempurnakan syari’at-syari’at sebelumnya. Kitab inilah yang umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya diwajibkan untuk mengikuti syari’at-syari’atnya dan berhukum dengannya, bersama dengan As-Sunnah yang juga merupakan wahyu yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi-Nya di samping Al-Qur`an.
“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Al-Kitab dan Al-Hikmah kepadamu.” (An-Nisa`: 113)
Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur`an kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dijadikan pedoman hukum, sekaligus sebagai obat penyakit yang ada di dada, klarifikasi segala sesuatu, hidayah, dan rahmat bagi kaum mukminin. 

       Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur`an semoga insan membacanya dengan penuh tadabbur (memperhatikan), mengikutinya, dan mengamalkan kandungannya. Sebagaimana firman-Nya l:
“Ini yakni sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka mentadabburi ayat-ayat-Nya dan supaya menerima pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29)
“Dan Al-Qur`an itu yakni kitab yang Kami turunkan yang penuh berkah, maka ikutilah ia dan bertaqwalah semoga kalian diberi rahmat.” (Al-An’am: 155)
       Maka barang siapa membaca Kitabullah dengan penuh tadabbur, mengikutinya, dan mengamalkan kandungannya berarti benar-benar telah beriman dengan kitab tersebut. Sebagaimana kebanggaan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan penuh tadabbur (sehingga mengikutinya dengan sebenarnya), mereka itu orang-orang yang beriman kepadanya, dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Baqarah: 121)
       Mereka yakni orang-orang yang menghalalkan apa yang dinyatakan halal dalam Kitabullah, mengharamkan apa yang dinyatakan haram dalam Kitabullah, mengamalkan ayat-ayat yang muhkam (yang jelas), mengimani ayat-ayat yang mutasyabih (yang butuh penjelasan), mereka yakni orang-orang yang berbahagia, yang mengerti nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat besar ini dan sanggup mensyukurinya.
       Kitab Taurat dan Bibel yang ada di tangan orang-orang Yahudi dan orang-orang Katolik tidak diragukan lagi yakni kitab-kitab yang tidak sah penisbatannya kepada Nabi Musa dan kepada Nabi ‘Isa w. Sehingga tidak sanggup dikatakan bahwa kitab Taurat yang ada di tangan Yahudi yakni Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salaam, tidak pula sanggup dikatakan bahwa kitab Bibel yang ada di tangan Katolik yakni Bibel yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa q. Sehingga kedua kitab tersebut yang ada di tangan Yahudi dan Katolik bukanlah Taurat dan Bibel yang kita diperintah untuk mengimaninya secara rinci.
       Hal itu disebabkan telah terjadi penyelewengan, pemalsuan, dan perubahan yang dilakukan oleh tangan-tangan lancang orang-orang Yahudi dan Katolik terhadap kitabnya masing-masing. Hal ini sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala terangkan dalam Al-Qur`an, di antaranya pada surah Al-Baqarah: 75, al-Ma`idah: 13-15, dan lainnya. Di samping penegasan Al-Qur`an, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Taurat dan Bibel yang ada tidak sah dinisbahkan sebagai kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala, antara lain:
1. Taurat dan Bibel yang kini ada di tangan Yahudi dan Katolik bukan naskah aslinya, namun terjemahannya.
2. Dalam naskah Taurat dan Bibel yang ada tersebut telah tercampur antara Firman Allah subhanahu wa ta’ala dengan perkataan manusia.
3. Baik Taurat maupun Bibel yang ada tersebut dibukukan sesudah wafatnya Nabi Musa dan Nabi ‘Isa w dengan terpaut waktu yang sangat lama. Sementara tidak ada rantai periwayatan terpercaya antara zaman penulisan sampai Nabi Musa maupun Nabi ‘Isa. Semakin menguatkan hal ini, Bibel muncul dalam beberapa naskah, ada Bibel Matius, Bibel Yohanes, dll.
4. Terdapat kontradiksi antara naskah-naskah Taurat dan Bibel yang ada.
5. Dalam Taurat dan Bibel yang ada di tangan Yahudi dan Katolik tersebut ternyata berisi aqidah-aqidah yang batil dan sesat, berita-berita dusta, dan hikayat-hikayat yang tidak sanggup dipertanggungjawabkan.
       Maka kewajiban kaum mukminin meyakini, bahwa Taurat dan Bibel yang ada di tangan Yahudi dan Katolik tersebut bukanlah kitab yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, namun itu yakni hasil penyimpangan Yahudi dan Katolik terhadap kitabnya. Maka kita tidak membenarkannya sama sekali kecuali apa yang telah dibenarkan oleh Al-Qur`anul Karim atau oleh As-Sunnah yang mulia. Dan kita dustakan apa yang telah didustakan oleh Al-Qur`anul Karim atau As-Sunnah yang mulia. Adapun yang tidak ada keterangan Al-Qur`an maupun As-Sunnah tentangnya maka kita tidak membenarkan tidak pula mendustakannya.
Wallahu a’lam bish shawab.
(sumber refferensi:wikipedia.org)